Oleh : dr. Andyazgo MS Isnandi, MMR
A. PREVALENSI
Epilepsi merupakan salah satu kelainan dengan prevalensi cukup tinggi di antara kelainan neurologis lainnya. Diperkirakan 70 juta penduduk dunia mengalami epilepsi. Sekitar 8-10% populasi akan mengalami serangan epilepsi dalam masa hidupnya, namun hanya sekitar 2-3% yang akan berkembang menjadi penyakit epilepsi. Data epidemiologi epilepsi di Indonesia sangat terbatas. Estimasi penderita epilepsi di Indonesia adalah 1,5 juta dengan prevalensi 0,5-0,6% dari penduduk Indonesia. Mengacu pada data insidensi epilepsi di dunia, insidensinya 50,3 per 100.000 populasi per tahun.
B. DEFINISI
Epilepsi merupakan penyakit yang mengganggu sistem saraf pusat sehingga akan terjadi kejang berulang pada penderitanya. Hal ini disebabkan karena kelebihan muatan listrik yang dihantarkan ke seluruh tubuh sehingga akan muncul gerakan tidak dapat dikontrol yang disebut sebagai kejang (WHO, 2017).
Salah satu konsekuensi penting pada epilepsi adalah penurunan fungsi kognitif. Beberapa penelitian menunjukkan banyak pasien justru mengeluhkan penurunan fungsi kognitif lebih menyengsarakan dibandingkan epilepsi itu sendiri. Studi yang dilakukan oleh Su Jeong Yu, menyebutkan epilepsi dan fungsi kognitif memiliki hubungan kompleks. Didapatkan bahwa adanya gangguan pada fungsi intelegensi, fungsi pemahaman bahasa, visuospasial dan fungsi kognitif pada anak penderita epilepsi.
Epilepsi dapat mempengaruhi semua kelompok sosial, tanpa memandang usia dan status sosial. Epilepsi memiliki ciri khas pada setiap kelompok umur, dilihat dari aspek etiologis, tanda klinis, dan respons terhadap pengobatan.
Kejang merupakan tanda awal dari penderita epilepsi, sehingga hal ini sewaktu-waktu dapat menimbulkan cidera pada anak terlebih jika kejang yang muncul tanpa diketahui penyebabnya, sehingga hal ini nantinya dapat menimbulkan masalah lain pada anak. Epilepsi dapat berakibat pada mortalitas dikenal dengan Sudden Unexpected Death In Epilepsi (SUDEP) terdapat 1,16 kasus untuk 1.000 orang yang mengalami epilepsi mengalami Sudden Unexpected Death In Epilepsi hal ini karena cidera seperti tenggelam karena selama dan setelah kejang berlangsung (CDC, 2019).
Orang dengan epilepsi (ODE) dapat sekolah, bekerja, dan berkeluarga. ODE dapat beraktivitas fisik mandiri tanpa bantuan orang sekitar. Hal ini perlu didukung oleh keluarga dan masyarakat yang dapat membantu ODE untuk mencapai kemandirian. Namun, tidak disarankan untuk ODE yaitu mengendarai kendaraan sendiri atau mengendalikan alat berat, karena hal ini dapat mencederai diri sendiri nantinya. Kunci hidup mandiri untuk ODE adalah terkontrol kejangnya dengan terapi adekuat serta dengan semangat atau mental yang kuat.
C. FAKTOR RISIKO
Penyebab epilepsi dapat bervariasi dan seringkali tidak diketahui. Namun, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya epilepsi antara lain:
-
- Cedera kepala
- Infeksi otak seperti ensefalitis atau meningitis
- Gangguan perkembangan otak
- Gangguan metabolisme
- Tumor otak
- Penggunaan obat-obatan tertentu
- Genetik atau faktor keturunan
- Selain faktor risiko di atas, epilepsi juga dapat dipicu oleh beberapa faktor seperti stres, kurang tidur, alkohol, dan faktor lingkungan lainnya.
D. PENANGANAN PERTAMA
Maka dari itu, perlu diketahui cara pertolongan pertama untuk pada seseorang yang alami epilepsi kambuh. Berikut beberapa caranya:
- Berikan orang yang mengalami epilepsi berupa ruang untuk bernapas dan minta orang-orang di sekitar untuk menjauh.
- Jauhkan benda keras atau tajam, seperti kacamata dan furnitur.
- Jika dirasa ia memiliki makanan atau cairan di mulutnya, segera gulingkan badannya ke samping.
- Tempatkan sesuatu yang lembut di bawah kepalanya sebagai bantalan.
- Kendurkan bagian pakaiannya yang ketat agar lebih mudah untuk bernapas, terutama di leher.
- Jika bisa, sebaiknya dicatat waktu saat kejang terjadi dan durasi terjadinya kejang.
- Jangan memasukkan apapun ke dalam mulutnya atau memindahkannya kecuali posisinya dalam bahaya
Pastikan juga untuk selalu bersama dengan orang yang mengalami epilepsi ini hingga ia benar-benar sadar. Jangan pernah untuk mengguncang atau bahkan berteriak kepada orang yang sedang mengalami epilepsi karena tentu saja cara ini tidak membantu. Disarankan untuk segera meminta bantuan dari rumah sakit terdekat untuk memberikan tindakan dan mengirimkan ambulans agar masalah yang terjadi dapat teratasi.
E. KESIMPULAN
Epilepsi dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia atau status sosial, dengan ciri khas berbeda pada tiap kelompok umur. Kejang merupakan gejala utama epilepsi dan dapat menyebabkan cedera serius, bahkan berisiko kematian mendadak (SUDEP). Namun, tidak semua kejang merupakan epilepsi. Kejang bisa terjadi akibat berbagai faktor seperti demam tinggi, cedera kepala, atau gangguan metabolisme, sementara epilepsi ditandai dengan kejang berulang tanpa pemicu langsung.
Penyebab epilepsi beragam, termasuk cedera kepala, infeksi otak, gangguan perkembangan otak, faktor genetik, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Faktor pemicu seperti stres, kurang tidur, dan alkohol juga dapat memperburuk kondisi.
Orang dengan epilepsi (ODE) dapat menjalani kehidupan mandiri dengan dukungan keluarga dan terapi yang tepat. Namun, mereka disarankan untuk menghindari aktivitas berisiko tinggi seperti mengemudi atau mengoperasikan alat berat.
Dalam menghadapi kejang epilepsi, penting untuk memberikan pertolongan pertama yang benar, seperti menjauhkan benda berbahaya, memiringkan tubuh penderita, dan memastikan saluran napas tetap terbuka. Hindari memasukkan benda ke dalam mulut atau mengguncang penderita. Jika kejang berlangsung lama atau memburuk, segera cari bantuan medis.
REFERENSI
https://www.halodoc.com/artikel/cara-pertolongan-pertama-pada-pasien-epilepsi-yang-kambuh
royalprogress.com/id/blog/spesialisasi-medis/saraf/epilepsi-penyebab-gejala-cara-pengobatannya/
bundaneurocenter.id/jenis-jenis-epilepsi/
Penulis merupakan dokter umum yang berpraktik di RSK Puri Nirmala pada Senin, Rabu, Jumat Pukul 09.00 – 16.00 WIB . Atur jadwal anda segera dengan menghubungi nomor berikut: 081524617175 (Whatsapp)